Rabu, 30 Juni 2010

Sebal :(


Repot juga ya kalau punya prinsip yang berbeda dengan orang-orang disekitar kita. Terkadang jadi merasa "alone". Tetapi, melakukan hal yang tidak sesuai dengan kata hati apa bedanya dengan membohongi diri sendiri dan menyakiti diri sendiri? Lebih tepat dikatakan "munafik". Sebisa mungkin harus gw hindari. Prinsip yang gw bangun sejak gw berada ditempat itu harus tetap bisa bertahan.

Seorang teman mengatakan, "komitmen yang salah harus diluruskan", tapi kan berdasarkan prinsip gw komitmen gw gak salah juga. Benar atau tidakknya tindakan mereka itu relatif tergantung siapa yang menilai. Lagian mereka tidak bisa men-judge tindakan mereka itu benar. Mungkin tujuannya memang baik "untuk membina", tapi sadarkah dibalik itu ada unsur "balas dendam" dan "pembunuhan karakter". Toh, gw dan "kalian" yang pernah "dibina biar bermental kuat" tetap saja yang cengeng tetap cengeng, yang dilatih jadi "pemimpin" juga tetap cengeng didepan "yang dipimpin". Terus bedanya apa?

Bisa dibilang menyesal ada dilingkungan seperti itu, tapi mau bagaimana lagi sudah terlanjur terjebak. Andai tahu sebelumnya keadaan tempat itu mungkin sekarang tidak akan pernah memilih tempat itu.

Eh..di post gw sebelumnya , gw pernah bilang "mereka" itu "sekumpulan orang-orang tolol" kan? Makanya gw juga nggak mau jadi bagian dari ketololan mereka. Lagipula gw nggak dapet ijin dari ortu gw jadi gw juga nggak mau cari-cari masalah sama ortu gw, daripada gw nyesel seumur hidup di cap jadi anak pembelot ke ortu.

Gw minta maaf kalau mungkin ada yang tersinggung, dan lebih-lebih gw minta maaf ke orang yang gw sayang, alasan gw semangat datang kekampus tapi mungkin gw udah kecewain dia. Walau pernah menjadi bagian dari ketololan itu tapi u're the only exception...thanks for the support ^^

Rabu, 23 Juni 2010

GPR - Gak Pake Ruwet

Hari ini ada nomor tak dikenal sms gw yg intinya nyuruh bintang nemenin malam-malam gw [ga merasa tidur ma bintang, si gw kalo malem ditemenin mama n kon deh..]. Otomatis, gw ga tau gitu dia siapa jadi gw tanya, "anda siapa?" [udah EYD jelas gitu]. Eh dibales gini, "maap ni winy bukan siih", merasa ga puas dengan jawaban itu, gw tanya lagi, "anda siapa?", gw udah ngasi kesempatan 2x tapi dia deal milih tirai biru [loh ini bukan quiz!], maksudnya dia masih bersikeras dengan jawabannya yang OOT itu, "ni winny bukan siih !", wogh, tanda seru berarti sebuah penegasan bung, dan zonk lah ditirai biru..[lagi-lagi ini bkn quiz!]

2x kali kesempatan dan tidak ada kesempatan ke 3x seperti ditempat lain, langsung gw to the point bilang pemikiran gw, "saya bertanya tidak anda jawab, apa anda merasa pantas untuk dijawab..",

everything had to be paid at equivalent value.. Gw tanya lo jawab, lo gak jawab ya gw gak jawab, cukup adil kan? ^^

Minggu, 20 Juni 2010

Joy and Tear... We're connected by fate


Percayakah kalian pada takdir?
Apakah pertemuanku dengannya merupakan takdir?
Apakah hari ini aku berada disini merupakan takdir?
Apakah air mata sahabatku hari ini juga merupakan takdir?

Kita tidak dilahirkan saling mengenal, tidak ada manusia yang dilahirkan mengetahui siapa dirinya dan mengetahui siapa yang akan ditemuinya suatu hari. Semua berjalan seperti sebuah sistem, membutuhkan proses untuk terbentuk. Dan proses itu tidak selalu berjalan seperti apa yang kita inginkan.

Aku tidak bisa meminta akan dilahirkan dimana sama halnya dengan tak bisanya aku meminta akan dilahirkan siapa. Pertemuanku dengannya pun aku tak memintanya. Semuanya terjadi begitu saja. Tapi aku senang bisa mengenalnya -mengenal mereka- sebagai sahabatku.

Satu semester lebih aku mengenal mereka. Tawa, canda, kekonyolan, tangis, mengisi hari-hari kami. Terkadang kesedihan yang menyesakkan dada dapat terhapuskan karena kehadiran mereka. Bahkan keinginan kabur dari camp saat KKM pun masih terbendung berkat mereka >.<)'.

Hari ini, ditempat kami biasa bercanda sambil menegak jus sirsat, air mata kembali menetes. Sebuah masalah rumit yang mungkin aku pun akan menangis jika mengalami hal yang sama. Ketika kita dihadapkan pada sebuah pilihan yang sulit sebuah pengorbananlah yang harus ditempuh. Di saat-saat seperti itu hanya pengertian dan dukungan dari orang-orang disekitar kitalah yang menjadi lentera penerang. Aku tak tahu apakah kehadiranku dan yang lain membuatnya menjadi lebih baik. Yang pasti kami mengusahakan yang terbaik yang bisa kami lakukan untuknya dan berharap semua akan baik-baik saja.

Apakah takdir yang membawa kami pada hari ini?
Apakah pertemuan dan perpisahan ini juga merupakan takdir?