Selasa, 05 Oktober 2010

Like a dungeon...

Apa dia pikir saya adalah manusia yang begitu 'sederhana' ?
Dalam pikiran saya, saya tidak sesederhana itu, saya rumit, dan [mungkin] hanya dipahami sepenuhnya oleh diri saya sendiri. Sekarang yang ada dipikiran saya "dia sama sekali tidak mengenal diri saya".

I'm not a crying baby that will stop crying by receiving a candy ! Dia tidak sedewasa yang saya kira. Dia percaya begitu saja dengan hal-hal baik yang saya ucapkan walau itu kebohongan dan dia mengingkari bahkan membantah ketika saya berusaha berkata kejam padahal itu adalah kejujuran.

Saya pernah membaca di suatu buletin kalau orang yang sedang sedih dan bercerita akan lega kalau di "iya" kan daripada di beri saran yang bertolak belakang. Ternyata itu benar. Tapi sayangnya [sepertinya] tak banyak orang yang tahu tentang hal ini. Termasuk dia. This is so rude but it's true that he's not a good listener that's why I rarely told him about my problem...

Kamis, 30 September 2010

Hanya Bisa Menulis


Saya jadi makin merasa kesepian sejak teman-teman dekat saya menjadi panitia ospek. Merasa orang-orang yang bisa saya ajak share berkurang. Tapi mau bagaimana lagi mereka tetap teman-teman saya. Terkadang saya jadi berpikir kehidupan soliter lebih cocok dengan saya yang kurang bisa beradaptasi dengan lingkungan baru saya. Saya punya orang yang saya sayang sekarang tapi saya tidak dapat menemukannya setiap saya menginjakan kaki di kampus. Apa saya harus mencari teman lama saya untuk sekedar menemani saya makan siang? Benar-benar melelahkan ketika banyak hal yang menumpuk dan membebani pikiran...

Rabu, 21 Juli 2010

Pitiful Weakling


Karena masa lalu lalu adalah bagian dari masa depan maka tidak akan ada masa kini jika masa lalu itu tidak pernah ada. Harusnya tidak pernah memulai masa lalu jika masa kini begitu menyesakkan.

Aku yang memulai, aku yang menjalani, aku yang menanggung konsekuensi, tapi aku yang tak bisa mengakiri...

Keadaan ini begitu membingungkan. Dulu karena sakit hati aku tak merasakan sakit untuk kedua kalinya karena orang-orang disekitar membalutkan perban yang dapat menutup lukanya walau tidak mampu menyembuhkannya. Tapi ini berbeda, karena luka-luka ini tak bisa dimengerti siapapun, luka ini dibiarkan, luka ini semakin parah dan lama kelamaan akan membusuk.

Dari masa lalu segalanya berubah dan aku berusaha mencari jawaban dari segala perubahan yang terjadi. Ketakutanku atas kebenaran? -ketidak beranian, sosok lemah dan menjijikkan yang melekat pada tubuh ini-, senyum palsu? -dimana luka yang kurasakan terasa pedih-, jiwa yang menangis? -karena jawaban yang ada tak selalu sesuai dengan harapan-. Bayanganku adalah sebuah kebohongan karena tidak bisa mengungkap yang aku rasakan. Terus menerus menyakiti orang lain dan pada prosesnya aku menghentikan menyiksa diri sendiri. Ingin sekali mengabaikan kata-kata orang tentang diri ini yang pengecut, penakut, ataupun egois...

Masa depan yang akan aku hadapi...
Aku tak yakin masih dapat berdiri setegar dulu...

Rabu, 30 Juni 2010

Sebal :(


Repot juga ya kalau punya prinsip yang berbeda dengan orang-orang disekitar kita. Terkadang jadi merasa "alone". Tetapi, melakukan hal yang tidak sesuai dengan kata hati apa bedanya dengan membohongi diri sendiri dan menyakiti diri sendiri? Lebih tepat dikatakan "munafik". Sebisa mungkin harus gw hindari. Prinsip yang gw bangun sejak gw berada ditempat itu harus tetap bisa bertahan.

Seorang teman mengatakan, "komitmen yang salah harus diluruskan", tapi kan berdasarkan prinsip gw komitmen gw gak salah juga. Benar atau tidakknya tindakan mereka itu relatif tergantung siapa yang menilai. Lagian mereka tidak bisa men-judge tindakan mereka itu benar. Mungkin tujuannya memang baik "untuk membina", tapi sadarkah dibalik itu ada unsur "balas dendam" dan "pembunuhan karakter". Toh, gw dan "kalian" yang pernah "dibina biar bermental kuat" tetap saja yang cengeng tetap cengeng, yang dilatih jadi "pemimpin" juga tetap cengeng didepan "yang dipimpin". Terus bedanya apa?

Bisa dibilang menyesal ada dilingkungan seperti itu, tapi mau bagaimana lagi sudah terlanjur terjebak. Andai tahu sebelumnya keadaan tempat itu mungkin sekarang tidak akan pernah memilih tempat itu.

Eh..di post gw sebelumnya , gw pernah bilang "mereka" itu "sekumpulan orang-orang tolol" kan? Makanya gw juga nggak mau jadi bagian dari ketololan mereka. Lagipula gw nggak dapet ijin dari ortu gw jadi gw juga nggak mau cari-cari masalah sama ortu gw, daripada gw nyesel seumur hidup di cap jadi anak pembelot ke ortu.

Gw minta maaf kalau mungkin ada yang tersinggung, dan lebih-lebih gw minta maaf ke orang yang gw sayang, alasan gw semangat datang kekampus tapi mungkin gw udah kecewain dia. Walau pernah menjadi bagian dari ketololan itu tapi u're the only exception...thanks for the support ^^

Rabu, 23 Juni 2010

GPR - Gak Pake Ruwet

Hari ini ada nomor tak dikenal sms gw yg intinya nyuruh bintang nemenin malam-malam gw [ga merasa tidur ma bintang, si gw kalo malem ditemenin mama n kon deh..]. Otomatis, gw ga tau gitu dia siapa jadi gw tanya, "anda siapa?" [udah EYD jelas gitu]. Eh dibales gini, "maap ni winy bukan siih", merasa ga puas dengan jawaban itu, gw tanya lagi, "anda siapa?", gw udah ngasi kesempatan 2x tapi dia deal milih tirai biru [loh ini bukan quiz!], maksudnya dia masih bersikeras dengan jawabannya yang OOT itu, "ni winny bukan siih !", wogh, tanda seru berarti sebuah penegasan bung, dan zonk lah ditirai biru..[lagi-lagi ini bkn quiz!]

2x kali kesempatan dan tidak ada kesempatan ke 3x seperti ditempat lain, langsung gw to the point bilang pemikiran gw, "saya bertanya tidak anda jawab, apa anda merasa pantas untuk dijawab..",

everything had to be paid at equivalent value.. Gw tanya lo jawab, lo gak jawab ya gw gak jawab, cukup adil kan? ^^

Minggu, 20 Juni 2010

Joy and Tear... We're connected by fate


Percayakah kalian pada takdir?
Apakah pertemuanku dengannya merupakan takdir?
Apakah hari ini aku berada disini merupakan takdir?
Apakah air mata sahabatku hari ini juga merupakan takdir?

Kita tidak dilahirkan saling mengenal, tidak ada manusia yang dilahirkan mengetahui siapa dirinya dan mengetahui siapa yang akan ditemuinya suatu hari. Semua berjalan seperti sebuah sistem, membutuhkan proses untuk terbentuk. Dan proses itu tidak selalu berjalan seperti apa yang kita inginkan.

Aku tidak bisa meminta akan dilahirkan dimana sama halnya dengan tak bisanya aku meminta akan dilahirkan siapa. Pertemuanku dengannya pun aku tak memintanya. Semuanya terjadi begitu saja. Tapi aku senang bisa mengenalnya -mengenal mereka- sebagai sahabatku.

Satu semester lebih aku mengenal mereka. Tawa, canda, kekonyolan, tangis, mengisi hari-hari kami. Terkadang kesedihan yang menyesakkan dada dapat terhapuskan karena kehadiran mereka. Bahkan keinginan kabur dari camp saat KKM pun masih terbendung berkat mereka >.<)'.

Hari ini, ditempat kami biasa bercanda sambil menegak jus sirsat, air mata kembali menetes. Sebuah masalah rumit yang mungkin aku pun akan menangis jika mengalami hal yang sama. Ketika kita dihadapkan pada sebuah pilihan yang sulit sebuah pengorbananlah yang harus ditempuh. Di saat-saat seperti itu hanya pengertian dan dukungan dari orang-orang disekitar kitalah yang menjadi lentera penerang. Aku tak tahu apakah kehadiranku dan yang lain membuatnya menjadi lebih baik. Yang pasti kami mengusahakan yang terbaik yang bisa kami lakukan untuknya dan berharap semua akan baik-baik saja.

Apakah takdir yang membawa kami pada hari ini?
Apakah pertemuan dan perpisahan ini juga merupakan takdir?

Kamis, 07 Januari 2010

Amari suki dewa arimasen

Memotong ayam dan darahnya ditaruh mangkuk dan kedua benda itu diletakkan didepan **** [kenapa gag gw tulis soalnya mereka sensitif sih]...gag tau kenapa gw terobsesi dengan ide itu...tapi kasian juga sama ayamnya jadi mati sebagai teror padahal kalo d goreng kan enak juga...


Mereka itu siapa sih? orang makan sama-sama nasi aja sok banget, baru jadi **** udah seperti itu kelakuannya memperlakukan orang yang posisinya lebih lemah, benar kami masih baru tapi kami bukan babu, benar kalian sudah lama tetapi kalian bukan dewa, apa yang mereka lakukan adalah suatu bentuk intimidasi secara tidak langsung, bukan kami yang memberontak tapi kalian lah yang memberontak kepada birokrat sejak awal, yang baru, yang baru tau, yang belum tau adalah pihak yang selalu salah, tapi di mata q mereka hanyalah sekelompok makhluk 'tolol' yang sok idealis secara dipaksakan...

gw marah?
iy

gw benci?
iy

gw dendam?
iy

gw ngambeg?
iy

Amari suki dewa arimasen... dai kirai yo senpai....!!!!! Urasai yo....!!!!!

speak up ur mind..!!! menuangkan apa yang ada dikepala bukanlah suatu kesalahan, tetapi suatu cara melepas beban, oleh karena itu tuangkan semua itu dan tersenyumlah :)